Sastra Dunia

Hasil Pembelajaran Murid
“Pada hari di mana saya memilih mengikuti Allahku yang konsisten dan pengasih, saya membuang pilihan keapatisan.”
Tips
Pastikan kita mengajarkan isi Alkitabiah yang kita ingin murid gunakan dalam penilaian.
Unit
Night (Elie Wiesel), 3 minggu
Pertanyaan Penting
Apa yang salah dengan dunia ini? Siapakah sesama saya?
Isi
Holocaust, rasisme, diskriminasi, martabat manusia, dasar martabat manusia (dicipta menurut gambar dan rupa Allah)
Keahlian
Menulis, diskusi
Penilaian
Esai
Strategi Mengajar
Kelompok kecil, diskusi, jigsaw, jurnal
Sumber
Night, Alkitab, berbagai artikel, Hotel Rwanda

Apa yang sedang membuat Anda bersukacita?

Kim: Saya sedang bersukacita karena salah satu murid kelas English 10 saya menulis, “Saya tidak memiliki hak untuk memilih saya harus menolong atau tidak; Pada hari di mana saya memilih mengikuti Allahku yang konsisten dan pengasih, saya membuang pilihan keapatisan.”

Apa yang sedang dipelajari murid-murid Anda?

Kim: Buku Night karangan Elie Wiesel, sebuah memoir Holocaust. Selama kami mempelajarinya, murid-murid fokus pada 2 pertanyaan penting: “Apa yang salah dengan dunia ini?” dan “Siapakah sesama saya?” Pada akhir unit tiga minggu ini, murid-murid saya menulis esai. Saya gembira sekali karena tulisan mereka membaik, dan saya gembira karena mereka mengaplikasikan perspektif Alkitabiah pada tema Night, yaitu memperlakukan sesama dengan buruk.

Tentang apa esai tersebut?

Kim: Murid-murid saya menulis esai 750 kata tentang hal berikut: Seberapa signifikan sebagian dari apa yang salah dengan dunia ini adalah kecenderungan untuk menyepelekan martabat manusia sesama, dan bagaimana seharusnya seorang Kristen merespon? Ilustrasikan jawaban kalian dari kejadian sastra, sejarah, atau kejadian akhir-akhir ini, dan pengalaman kalian sendiri. Sertakan relevansi konsep Alkitabiah tentang gambar Allah dan hukum Allah terbesar yang kedua.

Bagaimana Anda mempersiapkan murid-murid Anda untuk esai tersebut?

Kim: Sebelum mereka mulai membaca Night, murid-murid saya mempertimbangkan dua pertanyaan penting (“Apa yang salah dengan dunia ini?” dan “Siapakah sesama saya?” dan mendiskusikan “Justice in an Unjust World,” sebuah artikel 5 halaman oleh Gary Haugen, presiden dariInternational Justice Mission. Lalu ketika mereka membaca Night, mereka mendiskusikan rasisme, diskriminasi, martabat manusia, dan dasar martabat manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah. Mereka juga meningkatkan kesadaran akan kejadian akhir-akhir ini dengan menonton klip dari Hotel Rwanda dan melakukan jigsaw untuk empat artikel:

  1. “Being Muslim in a Mad, Sad, World”—editorial 3 Agustus 2005 di The Yomiuri Shinbun (yang mencetak ulang artikel dari The Washington Post).
  2. “Keep Crying Out”—deskripsi 1 halaman tentang Darfur dari majalah The Economist tanggal 9 Desmber 2006.
  3. “A Responsibility to Protect”—artikel 2 halaman dari majalah Soujourners edisi Desember 2006 yang mempertimbangkan pertanyaan, “Apakah internvensi militer adalah satu-satunya jalan?”
  4. “Alien Nation”—artikel oleh Isaac Canales dari majalah Leadership edisi musim gugur 2007 yang mendiskusikan orang asing ilegal di California. Setelah membaca Night, mereka mendiskusikan pidato penerimaan Wiesel’s Nobel Prize yang mengatakan bahwa rasa apatis menolong para penjajah. Mereka juga bekerja dalam kelompok empat orang untuk mempelajari Imamat 19:18 (yang berbicara tentang mengasihi sesama) dan 7 perikop Alkitab yang disarankan oleh NIV. Untuk setiap dari 8 perikop tersebut, mereka mengidentifikasi penulis, kejadian, penonton, dan tujuan.

Apa yang Anda pelajari dari mengajarkan unit Night Anda?

Kim: Saya selalu memiliki penghargaan yang dalam akan manfaat menyiapkan murid untuk suatu penilaian sebelum, selama, dan setelah mempelajari sebuah karya sastra. Dan saya menyadari bahwa memberikan artikel tambahan bagi murid sangat berguna—tahun lalu kami mendiskusikan 2 artikel dan tahun ini 5 artikel. Artikel tambahan menolong murid-murid memperoleh gambaran yang lebih baik tentang dosa dan implikasinya tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya. Dalam mengajar terkadang ada rasa putus asa, dan membaca esai murid-murid yang mengaplikasikan perspektif Alkitabiah sangat membangkitkan semangat! Saya sangat terdorong, contohnya, ketika saya membaca, “Suara kita dapat didengar. Kita hanya perlu berbicara cukup keras supaya dunia mendengar; dan ada banyak cara melakukannya…[tidak] melontarkan kelakar rasis adalah rencana saya untuk melakukan bagian saya.” Menulis esai menolong murid-murid saya berelasi dengan lebih dalam dengan apa yang mereka pelajari, dengan hidup mereka, dan dengan perspektif Alkitabiah.

Modifikasi apa yang akan Anda lakukan di unit ini?

Kim: Saya ingin memperbaharui artikel-artikel saya. Saya suka artikel yang baru dan segar, dan saya akan menambahkan lebih banyak spesifikasi untuk penilaian—seperti jumlah kutipan yang perlu digunakan murid-murid.


© http://closethegapnow.org

You have no rights to post comments